Thursday, August 15, 2013

Bertemu Lagi Setelah 60 Tahun Terpisah


“Kalau sudah jodoh, takkan kemana.”

Sobat Penghuni 60 pasti tahu ungkapan itu. Ungkapan yang seringkali diucapkan kepada pasangan kekasih yang sedang mengalami cobaan. Entah itu jarak yang memisahkan, tanpa restu orang tua, ataupun cobaan yang lain. Sebuah ungkapan yang kini benar-benar terbukti kebenarannya.

Bagaimana jadinya jika sepasang kekasih harus terpisahkan oleh jarak dan waktu yang sekian lama? Hingga sampai berpuluh-puluh tahun lamanya mereka dipisahkan. Namun, cinta itu datangnya dari Tuhan, sehingga Tuhan jugalah Yang Maha Menentukan soal jodoh. Dan terbukti benar adanya, bahwa kalau sudah jodoh, itu takkan kemana. Meskipun harus terpisahkan terlebih dahulu selama puluhan tahun, namun cinta mereka tetap dipertemukan kembali. Walau dalam situasi yang berbeda.

Cinta bukan hal rasional yang bisa diukur dengan logika. Kalau jodoh dan waktu harus mempertemukan dua orang, sepanjang apa pun hari berlalu maka tak ada yang dapat menolaknya. Selain kebahagiaan sejati karena mendapatkan cinta yang murni. Sebuah kisah cinta sejati terekam begitu indah. Kisah nyata yang bisa dijadikan contoh sebagai “The Power of Love”.

Yuk kita simak kisahnya,


Masa sulit di Rusia paska Perang Dunia II, 1946. Kekuasaan komunis di bawah Stalin membutuhkan tenaga-tenaga muda dalam kekuatan militer baru. Duta untuk keperluan itu diutus ke penjuru Soviet, hingga ke desa-desa yang jauh. Mereka melakukan orasi mencari pria-pria muda.


Tersebutlah nama Boris dan Anna, yaitu sepasang kekasih yang baru saja meresmikan pernikahan mereka tiga hari yang lalu. Kondisi memang susah, sehingga tak ada pesta besar-besaran. Toh, itu semua tak penting selain merasakan bahagia tinggal bersama di rumah mereka.

Setelah mendengar pidato sang orator komunis muda di alun-alun desa. Boris terpanggil untuk mengabdi pada negara. Segera setelah mendaftar, ia kembali pada Anna memberi kecupan selamat tinggal. Tugas negara memanggilnya.

Betapa terpukulnya Anna harus melepas suaminya pergi. Ia sempat mengancam akan bunuh diri. Keyakinan Boris bahwa ia akan kembali menguatkan semangatnya untuk menunggu.

Waktu berlalu. Boris telah pergi berperang. Suasana di desa tidak begitu tenang. Stalin memerintahkan sistem "pertanian kolektif" bagi seluruh rakyat Soviet. Ayah Anna menentang hal ini, karena ia akan kehilangan hak atas tanahnya. Mendengar pergolakan yang terjadi, pemerintahan komunis mengirim para pembangkang ke wilayah terbuang, Siberia. Anna dan keluarganya harus pergi meninggalkan desa mereka.

Beberapa tahun setelah tugas perang selesai, Boris kembali pulang. Tapi kekasih yang dicarinya telah pergi. Ia pulang ke rumah yang kosong.

"Dia selalu menunggu saya ketika saya pulang ke rumah, tapi kali ini tidak ada tanda-tanda keberadaannya," kenang Boris. "Tak seorang pun tahu di mana mereka berada, atau apa yang terjadi pada Anna."

Di Siberia, Anna tetap berharap Boris akan menemuinya. Walau entah bagaimana caranya, karena komunikasi terputus. Apakah mungkin Boris tahu keberadaannya kini?

Ibu Anna menyuruhnya melupakan Boris, serta menyuruhnya segera menikah dengan pria yang lain. Bahkan Anna dipaksa pergi dengan seorang pria agar menemukan cinta yang baru.

"Saya menangis dan berlari ke halaman. Dunia menjadi hitam bagi saya. Saya ingin mati, saya ingin gantung diri," kenang Anna. "Ibu saya datang dan menampar wajah saya. Lalu mengatakan kepada saya agar jangan bodoh. Dia membujuk saya untuk pergi dengan seorang pria, namanya Nefed. Ibu juga terus meyakinkan bahwa Nefed adalah masa depan saya."

Suatu hari, saat Anna pulang dari pabrik kayu tempatnya bekerja, semua foto kenangan bersama Boris dan surat-surat cinta selama mereka pacaran dibuang ibunya ke perapian. Terbakar sudah. Musnah semua kenangan cinta. Inilah akhir dan awal baru untuk menerima Nefed menjadi suaminya. Pernikahan kedua mereka terbilang bahagia, setidaknya Anna mau menerima nasib dan membangun rumah tangga dengan Nefed.

Ribuan kilometer di desa asal Anna, akhirnya Boris juga menyerah. Ia juga menikahi wanita lain dan pindah ke tempat lain. Namun cinta sejatinya tak pernah mati. Sebuah buku ditulisnya berkisah tentang wanita muda yang menikahi prajurit muda, namun hanya menghabiskan kebersamaan selama tiga malam saja. Sayang setelah lama berpisah, kekasihnya meninggal. Buku ini jadi sebuah cerita yang mengharukan.

Setelah puluhan tahun. Suatu hari Boris kembali pulang ke desa mengunjungi makam orang tuanya. Ia juga mendatangi rumahnya dulu, saat ia dan Anna tinggal bersama selama tiga hari saja.

Ketika melangkah keluar dari mobil, matanya terpaku pada seorang wanita tua sedang berdiri di dekat rumah. Itu Anna - seru Boris dalam hati.

Anna juga terdiam. Ia disergap keraguan, mungkinkah ini Boris? Air matanya mulai meleleh.

"Saya rasa penglihatan saya salah. Tapi pria itu menghampiri saya. Matanya menatap saya begitu dalam. Dan hatiku melonjak, ya aku tahu, dialah Borisku."

Boris berlari menghampiri dan memeluknya, "Sayangku, Aku sudah menunggu begitu lama. Oh istriku, oh hidupku."


Dan, itulah hari pertemuan mereka kembali setelah berpuluh-puluh tahun. Setelah Boris menginjak usia 80 tahun kini. Cinta mereka dipertemukan kembali. Ya, waktu telah menjawab bahwa cinta sejati selama apa pun itu, tetap akan bersatu.

Sebuah kisah yang mengharukan, namun penuh dengan energi. Energi dalam kekuatan cinta.

"Sudahkah kalian menemukan cinta sejati kalian?"




Signp60


No comments:

Post a Comment